Eddy Santana: Cahaya di Atas Lumpur

Palembang.iGlobalNews.id –Dalam tradisi filsafat Islam, pemimpin adalah khadimul ummah—pelayan umat. Ia bukan sekadar penguasa, melainkan pena yang menuliskan takdir kemajuan di atas lembaran tanah yang diamanahkan Tuhan. Seperti narasi syahdu “Sedia Aku Sebelum Hujan”, ada sosok yang bersiap sebelum badai kekumuhan melanda, yang menanam sebelum musim paceklik tiba. Sosok itu adalah H.Eddy Santana Putra.

1.Bayang-Bayang yang Menjelma Cahaya (Filosofi Niat)

Dahulu, Palembang adalah kota yang muram di bawah bayang-bayang julukan “Kota Terkotor”. Namun, dalam sunyi doa dan ketegasan visi, Eddy Santana hadir membawa filosofi Ishlah (perbaikan). Ia memahami bahwa membangun kota bukan sekadar menyusun batu bata, melainkan memuliakan harkat manusia yang mendiaminya.

Ia memulai dari yang paling hina di mata dunia: sampah dan kumuh. Melalui tangan dinginnya, Palembang bertransformasi secara radikal hingga meraih Piala Adipura Kencana, sebuah pencapaian yang bukan sekadar logam, melainkan simbol kesucian lingkungan yang menjadi cermin kesucian jiwa sebuah kota.

2.Membasuh Wajah Sungai Musi

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30). Eddy Santana menerjemahkan ayat ini dengan menghidupkan kembali denyut nadi Palembang: Sungai Musi. Sebelum ia datang, tepian Musi adalah tumpukan limbah dan keputusasaan.

Ia menghadirkan Benteng Kuto Besak (BKB) sebagai ruang publik yang bermartabat. Ia membangunkan kesadaran bahwa air adalah sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan. Di bawah kepemimpinannya, tepian sungai berubah menjadi pelataran doa dan tempat keluarga mencari bahagia. Ini adalah argumen kuat tentang kepemimpinan yang berwawasan ekologis (Khalifah fil Ardh).

3.Jembatan Harapan di Atas Ketidakmungkinan

Ketika transportasi kota terasa mencekam dan semrawut, ia menghadirkan Bus Trans Musi. Ini bukan sekadar moda transportasi; ini adalah tentang kesetaraan. Si kaya dan si miskin duduk berdampingan dalam kesejukan yang sama. Ia memanusiakan warga Palembang dengan transportasi yang layak, bersih, dan teratur.

Tak berhenti di situ, visi besarnya melahirkan Underpass Simpang Patal dan berbagai flyover yang kini kita nikmati. Ia adalah arsitek yang bekerja dengan logika teknik namun bergerak dengan hati nurani. Ia memecah kebuntuan arus jalan sebagaimana ia memecah kebuntuan nasib rakyatnya.

4.Sedia Sebelum Hujan: Sang Pelindung Rakyat Kecil

Seperti lirik yang menyayat, “Sedia aku sebelum hujan”, Eddy Santana adalah payung bagi mereka yang kepanasan oleh beban ekonomi. Relokasi pasar yang manusiawi, penataan pedagang kaki lima tanpa tetesan darah, dan pembangunan taman-taman kota (seperti Taman Kambang Iwak yang menjadi ikon nasional) adalah bukti bahwa ia ingin rakyatnya menghirup udara surga di bumi Sriwijaya.

Ia tidak membangun menara gading yang menjulang tinggi hanya untuk dipuja, melainkan membangun fondasi yang kuat agar anak cucu Palembang tidak terperosok dalam lubang kemiskinan yang sama.

Penutup: Jejak yang Tak Terhapus Waktu

Kini, sepuluh tahun masa baktinya telah berlalu, namun harum pengabdiannya masih tercium di setiap sudut trotoar yang bersih, di setiap lampu jalan yang bersinar, dan di setiap doa warga yang merindukan sosok ayah bagi kota ini.

Eddy Santana Putra telah menyelesaikan tugasnya sebagai “hujan” yang membasahi kekeringan harapan. Ia telah menuliskan khidmah (pelayanan) yang begitu dalam. Jika hari ini kita melihat Palembang bersinar di mata dunia, ingatlah bahwa ada seorang pemimpin yang pernah menghabiskan malam-malamnya untuk berpikir: “Bagaimana agar esok rakyatku bangun dengan senyum, bukan dengan air mata?”

Terima kasih, Pak Eddy. Jasa-jasamu adalah sedekah jariyah yang akan terus mengalir, sekekal aliran Sungai Musi menuju samudra keabadian.

Referensi Data:

Transformasi Palembang meraih Adipura 10 kali berturut-turut dan Adipura Kencana.

Pionir sistem transportasi Bus Trans Musi sebagai percontohan nasional.

Revitalisasi kawasan Benteng Kuto Besak dan Kambang Iwak.

Pembangunan infrastruktur strategis (Underpass dan Flyover) untuk memecah kemacetan.

Penataan kawasan kumuh menjadi kawasan layak huni di pinggiran sungai.

Oleh: Fitriana/Alumni Universitas Sriwijaya Palembang

 

Editor: Adeni Andriadi

(Pewarta : Mr.Wancik.AN.BE.

KaBiro Kota Palembang. Wakaperwil Sumsel dan terdaftar Resmi Anggota PWI Sumsel, Anggota PWI Pusat, Jakarta-Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *