Bumi Bende Seguguk : Raksasa Yang Sedang Merapikan Langkah

Sumatera Selatan. –Kertas data berukuran A4 itu digenggam erat, menyisakan sedikit lipatan di ujungnya. Di luar jendela ruang kerja yang berpendingin udara lambat, langit Palembang membentang abu-abu, menumpahkan rintik gerimis yang membasahi aspal jalan. Di balik meja kayu jati yang kokoh, Dr. (C) Ir. H. Eddy Santana Putra, M.T., duduk tegak. Tatapannya lekat menatap baris-baris angka indeks pembangunan, hamparan peta tata ruang, hingga catatan bentangan lahan gambut yang membentang luas di wilayah timur Sumatera Selatan.

Tangan kanannya, yang puluhan tahun lalu kerap memegang cetak biru pembangunan infrastruktur, mengetuk meja pelan. Ketukan itu ritmis, seolah mengimbangi detak waktu Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang tepat pada 11 Oktober 2026 ini menapaki usia ke-81 tahun. Ada garis pemikiran yang dalam di kening sang insinyur saat ia membalik lembar demi lembar laporan berkala. Bagi Eddy, ulang tahun bukan sekadar selebrasi memotong tumpeng atau gemuruh kembang api di langit Kayuagung.

“OKI itu raksasa yang sedang merapikan langkahnya,” ujar mantan Wali Kota Palembang dua periode tersebut sembari menggeser cangkir kopi hitam yang aromanya menguar memenuhi ruangan. Suaranya berat, bariton, dan tanpa keraguan. “Luas wilayahnya mencapai lebih dari 17.000 kilometer persegi, mendominasi lebih dari 18 persen wilayah Sumatera Selatan. Potensi agroindustri, perkebunan, dan perairannya melimpah. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana memastikan lompatan pembangunan itu mendarat tepat di dapur rumah-rumah warga pelosok pesisir dan kawasan gambut,” lanjutnya, sembari menyandarkan punggung.

*Jejak Angka di Balik Lahan Basah*

Pernyataan tokoh politik nasional ini bukan retorika kosong. Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam dengan presisi dinamika wilayah berpenduduk lebih dari 820 ribu jiwa ini. Pertumbuhan ekonomi OKI merangkak stabil, disokong oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang porsi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar. Namun, sebagai seorang pakar manajemen sumber daya air yang tengah merampungkan studi doktoralnya di Universitas Sriwijaya, Eddy melihat ada anomali geografis yang harus dikelola dengan presisi teknologi dan kebijakan yang berpihak.

Lebih dari 700 ribu hektare wilayah OKI merupakan kawasan hidrologis gambut. Karakteristik ini membuat OKI rentan terhadap Karhutla di musim kemarau ekstrem, sekaligus menantang dalam penyediaan infrastruktur konektivitas darat yang stabil. Pembangunan infrastruktur di atas tanah lunak membutuhkan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang tanah keras di wilayah barat Sumsel.

“Membangun OKI tidak bisa disamakan dengan membangun wilayah lain,” kata Eddy sembari menunjuk sebuah titik di peta pesisir timur OKI, daerah Tulung Selapan dan Air Sugihan.

“Pendekatannya harus berbasis mitigasi lingkungan dan interkoneksi air-darat. Kita butuh integrasi dermaga sungai yang modern dengan jalan poros desa yang kuat agar rantai pasok kelapa sawit, karet, dan gabah milik petani swadaya tidak tercekik ongkos logistik.”

Pria yang pernah membawa Palembang meraih Piala Adipura berturut-turut ini membeberkan analisanya mengenai pentingnya hilirisasi komoditas lokal. Selama ini, sebagian besar karet dan sawit keluar dari Bumi Bende Seguguk dalam bentuk bahan mentah. Menurutnya, jika investasi industri pengolahan skala menengah bisa ditarik masuk ke kawasan penyangga Tol Trans-Sumatra di wilayah OKI, nilai tambah ekonomi akan langsung terserap oleh tenaga kerja lokal.

*Bergerak Bersama, Berdampak Nyata*

Memasuki usia ke-81, Kabupaten OKI mengusung tema besar “Bergerak Bersama, Berdampak untuk Semua”. Sebuah narasi kolektif yang menurut Eddy harus diturunkan dalam bentuk program konkret yang menyentuh urat nadi masyarakat bawah. Pria berdarah campuran Ogan Ilir dan OKU Timur ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga level pusat — menjadi kunci mutlak.

“Saya mengucapkan selamat hari jadi ke-81 untuk Kabupaten Ogan Komering Ilir,” ucap Eddy dengan gestur tangan terbuka, senyum tipis mengembang di wajahnya. “Delapan puluh satu tahun adalah usia matang. Momentum ini harus kita pakai untuk melipatgandakan sinergi. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri; korporasi perkebunan besar harus lebih inklusif membina petani plasma, dan masyarakat harus dilibatkan aktif dalam menjaga kelestarian bentang alam gambut.”

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di OKI guna menyambut bonus demografi. Akses pendidikan kejuruan yang selaras dengan potensi daerah — seperti sekolah vokasi pertanian modern dan teknologi pengolahan hasil laut — harus diperbanyak agar pemuda-pemudi Kayuagung hingga Pedamaran tidak perlu merantau jauh untuk mencari penghidupan yang layak.

*Fajar Baru dari Timur*

Waktu bergeser menuju sore. Hujan di luar mulai reda, menyisakan bau tanah basah yang khas dan pantulan cahaya lampu jalan pada genangan air di pelataran. Eddy Santana Putra melangkah menuju jendela glass-block besar di sudut ruangannya. Ia melipat kedua tangannya di dada, memandang ke arah timur, ke arah di mana Kabupaten OKI berada.

Bagi sang insinyur dan politikus senior ini, masa depan Sumatera Selatan bertumpu kuat pada bagaimana OKI mengelola potensinya yang masif. Daerah ini bukan lagi sekadar wilayah pelintasan, melainkan poros baru pertumbuhan ekonomi di gerbang timur Bumi Sriwijaya.

“OKI punya segalanya untuk menjadi daerah yang mandiri dan sejahtera,” tutur Eddy, suaranya merendah namun sarat penekanan. Tatapannya lurus menembus sisa-sisa kabut senja. “Hari jadi ke-81 ini adalah alarm pengingat. Kita harus bergerak lebih cepat, bekerja lebih terukur, dan memastikan bahwa setiap rupiah pembangunan benar-benar berdampak untuk kemakmuran seluruh rakyat Ogan Komering Ilir. Dirgahayu Bumi Bende Seguguk.”

(ADENI)

(Pewarta : Mr.Wancik.AN.BE. KaBiro Kota Palembang, Mitra Polda Sumsel, Anggota PWI Sumsel, Anggota PWI Pusat, Jakarta-Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *