Jejak Peradaban Kesultanan Palembang Darussalam di Pulo Kemaro: Menyingkap Benteng Pertahanan dan Harmoni Akulturasi

Oleh : Vebri Al Lintani (Ketua KAPAL PURO).

Pakembang.iGlobalNews.id-Bagi masyarakat luas, Pulo Kemaro kerap kali identik dengan kisah romantis yang tragis antara Siti Fatimah dan Tan Bun Ann, lengkap dengan kemegahan pagoda dan riuk-pikuk perayaan Cap Go Meh di Klenteng Hok Tjing Rio. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik pesona pulau delta seluas 72 hektar di tengah Sungai Musi ini, Pulo Kemaro menyimpan narasi yang jauh lebih besar dan heroik: jejak benteng pertahanan militer serta simbol akulturasi budaya Kesultanan Palembang Darussalam.

Berjarak sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampera dan 83 kilometer dari muara Sungsang, posisi Pulo Kemaro secara geostrategis amat vital. Kemungkinan besar pulau ini telah dikenal sejak era Kedatuan Sriwijaya. Namun, rekam jejak sejarah yang paling kentara dan dapat ditelusuri hingga hari ini berasal dari masa Kerajaan dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Gardu Terdepan Pertahanan Pertiwi

Pada abad ke-17, ketika pusat kekuasaan Palembang berada di Kuto Gawang (kawasan PT Pusri saat ini), ujung hilir Pulo Kemaro disulap menjadi basis pertahanan utama. Di pulau inilah berdiri Benteng Manguntama, yang disokong oleh jaringan benteng di sekitarnya seperti Benteng Terapung, Benteng Tambak Bayo, dan Benteng Martopuro.

Pulo Kemaro menjadi saksi bisu kecamuk Perang 1659—sebuah pertempuran dahsyat antara rakyat Palembang melawan armada VOC Belanda. Meski perang tersebut dimenangkan oleh Belanda dan memaksa Raja Sido Ing Rejek menyingkir ke Indralaya, tanah Pulo Kemaro telah meminum darah para pejuang yang mempertahankan harga diri tanah airnya.

Jejak kepahlawanan ini kembali bergelora di era Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Pulo Kemaro kembali difungsikan sebagai benteng pertahanan utama bernama Benteng Tameng Ratu, yang dipimpin langsung oleh sang Putra Mahkota, Pangeran Ratu. Hal ini membuktikan bahwa Pulo Kemaro bukan sekadar daratan delta biasa, melainkan tameng utama Kerajaan dalam menghadapi invasi asing.

Harmoni Islam, Tionghoa, dan Tradisi Kesultanan

Di balik sejarah perangnya, Pulo Kemaro juga menyimpan episode indah tentang akulturasi budaya dan toleransi. Salah satu pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda adalah Kapiten Bong Su (Baba Bong Su), seorang Muslim keturunan Tionghoa.

Bong Su bersama dua saudaranya—Baba Belo dan Baba A Sing Minal Muslimin—adalah para teku (pembantu/abdi raja) yang datang dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming untuk mengabdi kepada Raja Palembang. Saat wafat, Kapiten Bong Su dimakamkan persis di depan lokasi yang kini menjadi Klenteng Hok Tjing Rio (Klenteng Kwan Im).

Awalnya, kelenteng ini didirikan oleh keturunan beliau pada tahun 1962 khusus untuk mengenang jasa Kapiten Bong Su, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi klenteng Tri Dharma sekitar satu dekade kemudian.

Nuansa keislaman khas Kesultanan Palembang yang bersanding harmonis dengan tradisi Tionghoa masih berjejak jelas hingga kini:

Aksara Jawi: Terpampang jelas pada plang nama “Makam Keramat Pulau Kemaro” yang menghadap ke arah PT Pusri.

Aturan Lokal: Adanya papan larangan mengonsumsi daging babi, minuman keras, dan berjudi di sekitar area kelenteng—sebuah penghormatan terhadap nilai-nilai keislaman tokoh yang dimakamkan di sana.

Mengembalikan Roh Sejarah Pulo Kemaro

Sangat disayangkan jika potensi Pulo Kemaro hari ini tereduksi hanya sebatas wisata romansa legenda lokal atau ritual keagamaan semata. Pulo Kemaro sejatinya adalah museum terbuka yang merekam gigihnya perjuangan militer Palembang serta indahnya pembauran antar-etnis dan agama.

Poin Penting:

Perlu adanya komitmen dari pemerintah dan pemangku kepentingan untuk merevitalisasi narasi sejarah Pulo Kemaro. Rekonstruksi informasi atau pembuatan wahana edukasi mengenai Benteng Manguntama dan Benteng Tameng Ratu sangat mendesak untuk dihadirkan.

Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Pulo Kemaro tidak hanya pulang membawa cerita mitos romantis, tetapi juga membawa pulang kebanggaan akan tingginya peradaban, keberanian, dan toleransi yang telah dipraktikkan oleh para leluhur Palembang Darussalam.

(Pewarta : Mr.Wancik.AN.BE.

KaBiro Kota Palembang, Wakaperwil Sumsel, Anggota PWI Sumsel, Anggota PWI Pusat, Jakarta-Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *