PALEMBANG – Konferensi Cabang (Konfercab) V Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Palembang yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional menjadi momentum refleksi perjalanan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus penguatan karakter generasi muda di era digital.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Palembang itu mengusung tema “Meneladani Sejarah NU Kota Palembang untuk Memperkuat Identitas Aswaja Gen Z”. Seminar menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, dan sejarawan untuk mengulas sejarah perjuangan ulama NU serta kontribusinya bagi bangsa.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, dalam sambutannya menegaskan bahwa generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter yang kuat, sikap kritis, dan kepedulian sosial.
“Generasi muda harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keagamaan dan kebangsaan,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi Z mengamalkan empat prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, yakni Tawasuth (moderat), Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (adil) sebagai bekal menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Ketua PCNU Kota Palembang, Abdul Malik Syafei, menilai media sosial menjadi tantangan terbesar bagi generasi muda. Menurutnya, penyebaran ujaran kebencian, polarisasi, hingga informasi yang tidak terverifikasi dapat memengaruhi pola pikir apabila tidak dibentengi pemahaman agama yang kuat.
“Tantangan terbesar kita hari ini adalah media sosial. Karena itu kader muda NU harus menjadikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kompas dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan, sejarawan NU KH Abdul Mun’im DZ menjelaskan bahwa NU yang berdiri pada 31 Januari 1926 lahir sebagai respons para ulama terhadap kondisi bangsa di masa penjajahan. Memasuki abad kedua, menurutnya, tantangan NU telah bergeser dari kolonialisme menuju era digital, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi teknologi.
Sementara itu, penulis buku Sejarah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan 1926–2025, Ir. Ahmad Dailami Malik Tajuddin, mengungkapkan bahwa embrio NU di Sumatera Selatan telah muncul sejak Muktamar I NU tahun 1926 di Surabaya. Ia juga memaparkan empat tokoh yang menjadi perintis NU Sumatera Selatan, yakni KH Kemas Abdullah Azhari, KH Abubakar Bastari, KH Sayyid Muhammad bin Salim Alkaf, dan KH Sayyid Abdullah Gathmir Alkaf.
Di sisi lain, Wakil Ketua LAKPESDAM PWNU Sumatera Selatan, Dr. Kemas A.R. Panji, menegaskan bahwa NU lahir dari tradisi pesantren yang telah mengakar di Nusantara. Menurutnya, konsep Islam Nusantara bukanlah mazhab baru, melainkan pendekatan dakwah yang menghargai budaya lokal tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariat Islam.
Seminar Nasional ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami sejarah perjuangan ulama, memperkuat identitas Aswaja, serta menyiapkan kader NU yang adaptif menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaan.
**Pewarta:** Mr. Wancik A.N. BE
