Beragam cerita menarik terlontar saat bercengkerama, seolah ruang “Ekspresi Bakat” itu paling benar dan relevan untuk merangkul demi persatuan di tengah kesibukan yang menyelimuti diri dalam life struggle.
Kekeluargaan dan persaudaraan menjadi tambal sulam kepentingan. Ia tidak tampak oleh mata, apalagi mudah untuk dibicarakan. Namun, ia terlihat melalui upaya, ambisi, dan gelagat busuk yang kerap menggeser makna.
Bola, etika, dan kekeluargaan seyogianya dijaga oleh para pemangku kepentingan. Namun, sering kali kebenaran justru dicibir dan dibungkus dengan kalimat “Kita semua bersaudara”, yang pada akhirnya hanya menjadi percikan kebohongan yang nyata terdengar.
Di zaman yang dipenuhi intrik kotor dan kebohongan, banyak cara buruk dianggap benar hanya karena disampaikan dengan nada keras dan watak culas; asal bunyi (asbun) dan asal bapak senang (ABS).
Acap kali, persatuan, kekeluargaan dan persaudaraan sejatinya tidak perlu dibahasakan, apalagi dijual dengan cara yang tidak wajar, apabila hal itu tidak mampu menjanjikan dan mewakili suatu upaya yang mutlak dan tulus.
Krisis etika serta kepedulian antarindividu sebagai “makhluk sosial” rentan terjadi ketika manusia dibius oleh beragam kepentingan bejat yang tak terukur, hingga mampu merongrong persatuan, kekeluargaan, dan persaudaraan.
Distorsi berpikir dan cara padang yang kurang mumpuni dapat memproduksi cara busuk dan tindakan kotor yang bisa mengeliminasi ensensi “Persatuan” yang menjadi kebutuhan primer atau tujuan fundamental.