Hendry Ch Bangun Kenang Sosok Alex Noerdin: dari Kritik Media hingga Lahirnya SJI

iGlobalNews.id – Kabar wafatnya Alex Noerdin di usia 76 tahun menyisakan duka mendalam, terutama bagi kalangan insan pers. Di mata Hendry Ch Bangun, Sekretaris Jenderal PWI Pusat periode 2008–2018, almarhum bukan hanya kepala daerah, tetapi juga figur yang memiliki perhatian besar terhadap dunia jurnalistik.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Hendry menuturkan pertemuan pertamanya dengan Alex Noerdin terjadi ketika almarhum masih menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin. Pertemuan itu difasilitasi oleh Ketua Umum PWI Pusat 2003–2008, Tarman Azzam.

“Waktu itu Pak Alex menyampaikan keberatan soal pemberitaan yang menurutnya tidak berimbang dan tanpa konfirmasi,” kata Hendry.

Menurut Hendry, sebagai kepala daerah dengan capaian APBD tinggi di tingkat nasional, wajar jika Alex Noerdin menghadapi sorotan tajam. Ia pun menyarankan agar hak jawab digunakan sebagai solusi.

“Semakin tinggi pohon, semakin besar anginnya,” ujarnya mengenang.

Meski sempat mengeluhkan pemberitaan, Hendry menilai Alex Noerdin tetap membuka ruang dialog dengan wartawan. Bahkan, ia kerap mengundang jurnalis dari Jakarta untuk melihat langsung perkembangan Musi Banyuasin dan Sumatera Selatan.

Hendry mengaku pernah berkunjung ke Sekayu bersama sejumlah wartawan nasional. Ia menyaksikan sejumlah kemajuan, termasuk keberadaan lapangan terbang kecil yang memudahkan mobilitas menuju Palembang.

Momen penting lainnya terjadi saat Palembang menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2010. Saat itu, bersama jajaran PWI, digagas pendirian Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI). Alex Noerdin menyetujui dan mendukung penuh program tersebut.

Kuliah perdana SJI bahkan dibuka langsung oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah tokoh pers nasional turut menjadi pengajar, dan program tersebut kemudian berkembang ke berbagai provinsi.

Pada puncak HPN 2010, Alex Noerdin menerima penghargaan Pena Emas dari PWI. Ia juga menyetujui pembangunan Pusat Pelatihan Wartawan ASEAN di kawasan Jakabaring Sport City. Gedung tersebut dirancang sebagai pusat pelatihan internasional sekaligus sekretariat PWI Sumsel, meski dalam perjalanannya kemudian beralih fungsi.

Tak hanya itu, Hendry juga mengingat keterlibatan Alex Noerdin dalam mendukung lahirnya media lokal. Dalam sebuah pertemuan di Jakarta, Alex sempat menawarkan dirinya memimpin surat kabar yang kemudian diberi nama Berita Pagi. Namun Hendry memilih tetap di Kompas dan merekomendasikan Atal S Depari untuk memimpin.

Berita Pagi pun tumbuh menjadi salah satu media berpengaruh di Sumatera Selatan.

Bagi Hendry, warisan Alex Noerdin tidak hanya pada hubungan baik dengan pers, tetapi juga pembangunan infrastruktur seperti LRT Palembang dan pengembangan kawasan Jakabaring Sport City menjelang Asian Games 2018.

“Beliau punya kontribusi besar untuk PWI, baik pusat maupun Sumsel. Saya menjadi saksi itu,” kata Hendry.

Ia berharap masyarakat dapat mengenang sisi positif dan dedikasi Alex Noerdin selama memimpin.

“Semoga beliau husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” tutupnya.

(Pewarta: Mr. Wancik AN BE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *