Palembang | iGlobalNews.id —Awal Tahun Baru 2026 menjadi momentum duka bagi masyarakat Sumatera Selatan. Salah satu putra terbaik daerah ini, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha karismatik, Kemas Haji Abdul Halim Ali, berpulang ke Rahmatullah.
Sosok yang akrab disapa Haji Halim itu mengembuskan napas terakhir dengan tenang pada Kamis, 22 Januari 2026, di Rumah Sakit Siti Fatimah Az-Zahra, Palembang, dalam usia 88 tahun.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat luas yang selama ini mengenalnya sebagai figur Ayahanda berwibawa, bijaksana, penyantun, penuh kasih sayang, pemaaf, dan sahabat sejati lintas kalangan.

Sepanjang hidupnya, almarhum dikenal sebagai pribadi yang tidak hanya sukses dalam dunia usaha, namun juga kaya akan amal jariyah. Catatan kebaikan yang kerap disebut sebagai “tinta emas” menunjukkan bahwa semasa hidupnya, Haji Halim telah membangun sekitar 60 masjid dan musala, tidak hanya di Palembang, tetapi juga hingga Medan dan Bandung.
Bagi masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya, Haji Halim adalah simbol “tangan di atas” dermawan bagi anak yatim, marbot masjid, guru ngaji, hingga guru PAUD. Ketulusannya menembus sekat suku, agama, dan golongan. Ia memberi tanpa pamrih, ikhlas semata-mata karena Allah SWT, tanpa kepentingan pragmatis apa pun.
Ketulusan itulah yang diyakini banyak pihak menjadi sebab keberkahan rezeki almarhum semasa hidupnya rezeki yang terus mengalir dan bermuara pada amal kebaikan yang manfaatnya dirasakan hingga kini.

Ucapan duka dan penghormatan mendalam disampaikan oleh Rudi M. Soleh, Sekretaris Jenderal HIMPAN (Himpunan Masyarakat Peduli Anak Negeri Nusantara) sekaligus pengamat kebijakan publik.
“Selamat jalan Ayahanda kami tercinta, Kemas Haji Halim. Semoga seluruh amal ibadah, perjuangan, dan pengabdian beliau selama hidup dalam suka dan duka, dalam ujian dan cobaan—diterima oleh Allah SWT,” ujar Rudi saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/1/2026).
Rudi mengaku sangat kehilangan sosok yang ia kagumi tanpa pamrih. Dari raut wajahnya tampak kesedihan mendalam, matanya berkaca-kaca menahan haru.
“Beliau adalah tokoh publik yang bekerja dan berkarya dengan tulus ikhlas karena Allah SWT. Sosok panutan, figur ayahanda yang bijaksana, berwibawa, dan sahabat sejati bagi masyarakat Sumatera Selatan,” tambahnya.
Kepergian Kemas Haji Halim di awal Januari 2026 menjadi pengingat bahwa hidup sejatinya adalah tentang manfaat dan keteladanan. Warisan nilai, amal, dan pesan damai yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam ingatan dan doa masyarakat.
Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, di surga-Nya yang hakiki dan abadi.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Pewarta: Mr. Wancik A.N.BE, KaBiro Kota Palembang Wakaperwil Sumsel, Anggota PWI Sumsel & PWI Pusat – Jakarta
