Membangun Kerajaan Pempek

Palembang.iGlobalNews.id –Di sepanjang koridor lembap dan berkelok-kelok Sumatera Selatan, tempat Sungai Musi menghembuskan aroma perdagangan kuno dan ikan fermentasi, sebuah revolusi terjadi bukan dengan baja, tetapi dengan pati dan kulit. Di sinilah, di bawah kepemimpinan Ir.H.Eddy Santana Putra,MT (2003–2013) selama satu dekade, jajanan jalanan sederhana direkayasa ulang menjadi mesin pertumbuhan makroekonomi yang canggih.

Menyaksikan kebangkitan Pempek berarti memahami alkimia perencanaan kota yang bertemu dengan warisan leluhur. Sebelum Putra mengambil alih, Pempek adalah ritual lokal—rahasia gurih yang dibisikkan di kampung-kampung. Pada saat ia meninggalkan jabatannya, Pempek telah menjadi raksasa bernilai triliunan rupiah, mata uang kuliner yang mendefinisikan kembali identitas Palembang di panggung global.

Infrastruktur Rasa

Sebagai seorang insinyur terlatih, Putra mendekati gastronomi kota dengan ketelitian seorang ahli bangunan. Ia menyadari bahwa agar makanan lezat yang mudah basi dapat menaklukkan pasar di Jakarta, Singapura, dan sekitarnya, kota tersebut membutuhkan lebih dari sekadar resep; kota itu membutuhkan tulang punggung logistik.

Di bawah administrasinya, revitalisasi kawasan Jembatan Ampera dan “penataan estetika” tepian sungai Musi bukanlah sekadar proyek kesombongan.

Ini adalah langkah-langkah yang diperhitungkan untuk menciptakan arena bagi “wisata kuliner.” Dengan menyederhanakan perizinan lokal dan menggerakkan usaha kecil dan menengah (UKM), ia mengubah industri rumahan yang terfragmentasi menjadi kekuatan industri yang tersinkronisasi.

Dari Gerobak ke Kargo

“Pergeseran Triliunan Rupiah” didorong oleh desakan Putra pada standardisasi dan kesiapan ekspor. Ia memperjuangkan sertifikasi “Pempek Palembang” sebagai indikasi geografis, melindungi kekayaan intelektualnya sambil secara agresif memasarkannya di pameran dagang internasional.

“Dia tidak hanya membangun jalan; dia membangun rute bagi cita rasa kita untuk menyebar,” kata Cek Fatimah seorang pedagang Pempek di distrik Ilir ke-26, Kampung Pempek yang terkenal di kota itu.

Selama masa jabatannya, pengiriman harian Pempek melalui Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II melonjak dari peti-peti sederhana menjadi puluhan ton, secara efektif mengubah bandara menjadi jalur perdagangan yang penting.

Sang Konduktor Budaya

Mungkin langkah brilian Putra yang terbesar adalah pelembagaan “Festival Pempek” dan pengintegrasian hidangan tersebut ke dalam diplomasi sipil resmi. Ia memahami bahwa dalam ekonomi modern, kekuatan lunak terasa seperti cukko—ramuan pedas berbahan dasar cuka yang menyertai hidangan tersebut.

Pada akhir masa jabatan keduanya, omset tahunan industri Pempek telah menembus batas angka 1 triliun rupiah, memberikan sumber penghidupan bagi ribuan keluarga Palembang.

Warisan dalam Setiap Gigitan

Saat matahari terbenam di bawah Sungai Musi, memancarkan warna keemasan di atas air, warisan Putra tetap terasa. Ia membuktikan bahwa alat terbesar seorang walikota tidak selalu palu, tetapi terkadang visi untuk melihat potensi global dalam semangkuk lokal. Ia tidak menciptakan Pempek, tetapi ia memberinya takhta.

Dalam sejarah tata kelola perkotaan Indonesia, Eddy Santana Putra tetap menjadi arsitek yang menyadari bahwa jalan terpendek menuju kemakmuran kota seringkali melalui dapurnya.

Oleh: Susani

Analis Tata Kelola Perkotaan

(Pewarta : Mr.Wancik.AN.BE.

Wakaperwil Sumsel, dan terdaftar Resmi Anggota PWI Sumsel, Anggota PWI Pusat, Jakarta-Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *