Sembahyang Ulambana Digelar di Sejumlah Kelenteng Palembang, Jadi Momentum Melimpahkan Jasa Kebajikan kepada Leluhur

PALEMBANG, iGlobalNews.id — Sejumlah kelenteng di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menggelar rangkaian Sembahyang Ulambana pada Rabu (9/9/2026). Tradisi keagamaan dalam ajaran Tridharma ini menjadi momentum untuk mendoakan para leluhur sekaligus mengajarkan pentingnya melakukan kebajikan dan melimpahkan jasa kebajikan kepada semua makhluk.

Sembahyang Ulambana tersebut digelar di sejumlah tempat ibadah Tridharma yang berada dalam naungan Pembinaan Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma (PTITD) se-Indonesia dan mendapatkan pembinaan teknis dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama RI.

Pantauan iGlobalNews.id di sejumlah lokasi menunjukkan rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman dan lancar. Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan pengamanan dari aparat terkait, termasuk unsur TNI dan Polri.

Salah satu lokasi pelaksanaan berada di Kelenteng Hongsansie dan Kelenteng San Ciao Miao Ie, Jalan KH Azhari, 10 Ulu, Palembang. Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kelenteng Wie Cin Keng di kawasan Tembok Baru, 12–13 Ulu, serta Kelenteng Soie Goet Kiong yang berada di kawasan 10 Ulu dekat tepian Sungai Musi.

Rangkaian kegiatan turut diwarnai arak-arakan dengan iringan genderang dan musik tanjidor. Suasana tersebut menambah semarak pelaksanaan tradisi keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Kegiatan keagamaan ini juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palembang yang dikenal memiliki keberagaman agama dan budaya. Pelaksanaan Sembahyang Ulambana sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga toleransi, kerukunan serta sikap saling menghormati antarumat beragama.

Makna Sembahyang Ulambana

Ulambana memiliki makna yang berkaitan dengan upaya menaikkan, menyelamatkan dan menolong. Dalam tradisi Mahayana Tiongkok, Ulambana diperingati pada tanggal 15 bulan ketujuh kalender Imlek atau yang dikenal sebagai bulan Cit Gwee.

Tradisi tersebut erat kaitannya dengan penghormatan kepada leluhur serta pelimpahan jasa kebajikan. Karena itu, Sembahyang Ulambana tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pengingat bagi umat untuk terus melakukan perbuatan baik.

Ajaran mengenai cinta kasih dan kebajikan juga tercermin dalam Mettasutta, yang mengajarkan pancaran cinta kasih demi kebahagiaan semua makhluk.

Dalam pelaksanaannya, umat mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia dan melimpahkan jasa kebajikan agar terbebas dari penderitaan.

Disebut sebagai Wujud Energi Jasa Kebajikan

Penasehat Kelenteng Tridharma Kota Palembang, Cik Harun, menjelaskan bahwa Sembahyang Ulambana merupakan salah satu bentuk pengamalan kebajikan melalui pelimpahan jasa kepada leluhur dan seluruh makhluk.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bukti bagaimana nilai kebajikan terus dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ulambana itu merupakan wujud aplikasi tentang kuatnya energi jasa kebajikan melalui pelimpahan jasa kepada leluhur dan semua makhluk,” ujar Cik Harun saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Ia juga menjelaskan makna arak-arakan patung yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi tersebut.

“Makna arak-arakan patung adalah dewa setan untuk mengatur dan mengoordinasikan kembali para arwah yang bergentayangan tersebut, agar setan-setan itu berebut makanan yang telah disajikan,” jelasnya.

Sementara itu, JGS Agus dan Ng. Haicing Ching yang terlibat dalam kegiatan tersebut turut menjelaskan bahwa doa dalam Sembahyang Ulambana ditujukan kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.

Doa tersebut ditujukan bagi mereka yang semasa hidup telah memberikan jasa dan kebajikan kepada keluarga, seperti ayah, ibu, kakek, nenek, saudara maupun sanak keluarga lainnya.

Selain memiliki makna spiritual, pelaksanaan kegiatan di sejumlah kelenteng tersebut juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi. Kehadiran umat dan warga selama rangkaian kegiatan turut memberikan dampak bagi pelaku UMKM dan usaha kecil di lingkungan sekitar tempat ibadah.

Dengan demikian, Sembahyang Ulambana tidak hanya menjadi tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai kebajikan, penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap sesama serta kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kota Palembang.

Pewarta: Mr. Wancik A.N., BE.

KaBiro Kota Palembang | Anggota PWI Sumsel | Anggota PWI Pusat, Jakarta-Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *