Palembang, iGlobalNews.id – Kabar menggembirakan datang dari upaya pelestarian warisan budaya di Kota Palembang. Tim Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Palembang berhasil mengidentifikasi lima naskah kuno bersejarah yang selama ini tersimpan rapi di Keraton Kesultanan Palembang Darussalam milik Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.
Temuan tersebut menjadi kejutan sekaligus kabar penting bagi dunia sejarah dan filologi, karena salah satu manuskrip yang berhasil diidentifikasi berisi silsilah Sultan-Sultan Kesultanan Palembang Darussalam yang selama ini banyak dicari para peneliti, sejarawan, hingga masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

Tim identifikasi yang dipimpin Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Naskah Kuno Dispusip Kota Palembang, Melly, S.K.M., M.Si., melakukan penelitian langsung terhadap manuskrip-manuskrip bersejarah tersebut di lingkungan Keraton Kesultanan Palembang Darussalam.
“Kami sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk mengidentifikasi naskah-naskah kuno yang selama ini tersimpan oleh Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Ini merupakan aset sejarah yang sangat berharga bagi Palembang dan Indonesia,” ujar Melly.

Lima naskah kuno yang berhasil teridentifikasi terdiri dari Al-Qur’an, Tafsir Juz 2, Hadis Bukhari, Kitab Fiqih, serta manuskrip silsilah Sultan Kesultanan Palembang Darussalam. Seluruh naskah tersebut dinilai masih dalam kondisi relatif baik dan sebagian besar teksnya masih dapat dibaca dengan jelas.
Proses identifikasi turut melibatkan Ketua Panitia Khusus Filolog Sumatera Selatan, Dr. Nyimas Umi Kalsum, S.Ag., M.Hum., bersama unsur Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Sumatera Selatan dan Yayasan Pusako Sumatera Selatan.
Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin menyambut baik kegiatan identifikasi tersebut. Ia berharap naskah-naskah kuno yang dimilikinya dapat segera didigitalisasi dan dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Selain didigitalisasi, saya berharap manuskrip seperti Tafsir Al-Qur’an dan Sahih Bukhari ini juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar dapat menjadi sumber ilmu yang bermanfaat bagi umat,” ungkap Sultan.
Sultan juga mengaku masih menyimpan sejumlah manuskrip kuno lainnya, termasuk Al-Qur’an tulisan tangan berukuran besar dengan lebar mencapai dua meter. Menurutnya, pelestarian manuskrip kuno sangat penting karena dapat membantu meluruskan berbagai catatan sejarah yang selama ini dinilai kurang tepat.
Ia mencontohkan bahwa dalam manuskrip silsilah Kesultanan Palembang Darussalam tidak ditemukan penggunaan angka Romawi sebagaimana yang selama ini banyak digunakan dalam penulisan sejarah modern.
“Kekeliruan-kekeliruan sejarah seperti ini perlu kita benahi bersama melalui kajian ilmiah dan penelitian yang mendalam,” tegasnya.
Sementara itu, Filolog Sumatera Selatan, Dr. Nyimas Umi Kalsum, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengamatan awal terhadap bentuk tulisan dan tanda air pada kertas, naskah-naskah tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-18.
Menurutnya, digitalisasi dan alih bahasa manuskrip merupakan langkah penting dalam penyelamatan warisan budaya bangsa. Namun proses tersebut memerlukan perencanaan matang, sumber daya, serta penanganan khusus mengingat kondisi naskah yang harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan.
“Kami menyambut baik harapan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Digitalisasi dan alih media memang menjadi bagian dari upaya pelestarian naskah kuno yang selama ini didorong oleh Dispusip, Perpustakaan Nasional RI, dan Manassa,” jelasnya.
Temuan lima manuskrip bersejarah ini menjadi harapan baru bagi pengungkapan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang lebih autentik sekaligus memperkuat upaya pelestarian khazanah intelektual Nusantara bagi generasi mendatang.
**Pewarta: Mr. Wancik A.N.BE**
**KaBiro Kota Palembang | Wakaperwil Sumsel | Anggota
PWI Sumsel | Anggota PWI Pusat**
