Catatan Tinta Emas Idul Fitri di 13 Ulu Palembang: Khidmat, Haru, dan Tradisi Terbangan yang Menghidupkan Rindu Perantau

Palembang, IGlobalNews.id — Suasana khidmat dan penuh kebahagiaan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Mushollah An-Nur, Jalan KH Azhari, 13 Ulu, Palembang, Sabtu (21/3/2026). Momentum hari kemenangan ini tak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga pertemuan emosional antara warga setempat dan para perantau yang pulang kampung.

Berdasarkan pantauan awak media, ratusan jamaah memadati mushollah sejak pagi. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Al Habib Syauqi bin Yusuf Assegaf, Ustadz Adib Mansur (Ketua Mushollah An-Nur), Muhammad Syukri “JUV” (Wakil Ketua), Ridwan Bustam (Bilal), H Hoesni Abdullah, Ustadz Drs H Mansyur MPdi, serta para jamaah dan perantau dari berbagai daerah.

Dalam khutbahnya, Al Habib Syauqi bin Yusuf Assegaf menyampaikan pesan mendalam tentang makna Idul Fitri sebagai hari kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah Ramadan. Dengan suara lembut namun tegas, ia mengajak jamaah untuk merenungi tiga bentuk kezaliman sebagaimana nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dalam kitab Nahjul Balaghah.

“Pertama, kezaliman yang tidak diampuni yaitu syirik. Kedua, kezaliman terhadap sesama manusia yang pasti akan dituntut. Dan ketiga, kezaliman terhadap diri sendiri yang masih dibukakan pintu ampunan oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak berputus asa dari rahmat Allah, mengutip firman dalam QS Az-Zumar ayat 53 tentang luasnya ampunan bagi hamba yang bertaubat. Pesan tersebut semakin menguatkan suasana haru yang terasa di dalam mushollah.

Selain khutbah yang menyentuh, tradisi khas Mushollah An-Nur turut menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi para perantau. Usai sholat, jamaah melaksanakan tradisi bersalam-salaman dengan berkeliling di dalam mushollah, saling memaafkan satu sama lain dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.

Tak hanya itu, lantunan “terbangan” berupa sholawat dan zikir turut menghidupkan nuansa religius sekaligus emosional. Tradisi ini menjadi pengikat kenangan masa kecil bagi banyak perantau yang kembali ke kampung halaman.

Salah satu perantau asal Lubuklinggau, Ustadz Drs H Mansyur MPdi, mengaku momen Idul Fitri di kampung halaman selalu menghadirkan kerinduan tersendiri. Ia rutin pulang setiap tahun untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

“Bagi kami para perantau, mudik adalah keharusan. Selain bersilaturahmi, kami juga ingin merasakan kembali kebersamaan beribadah di Mushollah An-Nur, terutama saat Idul Fitri,” ujarnya saat ditemui, Selasa (24/3/2026).

Ia menambahkan, tradisi bersalam-salaman dan terbangan menjadi “catatan tinta emas” yang terus melekat dalam ingatan para perantau.

“Dua keunikan ini membuat kami selalu rindu untuk pulang. Ini bukan sekadar tradisi, tapi bagian dari kenangan hidup,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Perayaan Idul Fitri di Mushollah An-Nur 13 Ulu Palembang tahun ini pun menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, dan tradisi lokal tetap hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat.

 

Pewarta : Mr. Wancikk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *